Banyak Proyek Infrastruktur, Kebutuhan Baja Meningkat

Jakarta – Pemerintah Indonesia sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Atas proyek tersebut, kebutuhan baja untuk proyek infrastruktur meningkat sedangkan produksi Indonesia saat ini belum memenuhi kebutuhan tersebut sehingga harus impor.

“Kebutuhan daripada baja nasional itu sangat didorong oleh program pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya tentang infrastruktur dan energi. Tentunya sangat menkonsumsi baja dan metal,” kata Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Dadang Asikin, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (11/10/2016).

Ia mengatakan, baja diperlukan untuk membangun industri berteknologi tinggi seperti alat transportasi kapal atau kereta dan proyek konstruksi seperti jembatan, gedung, pelabuhan, dan lain-lain.

Bahkan, proyek investasi pembuatan pabrik baru juga membutuhkan baja sebagai salah satu bahan baku misalnya terkait dengan pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW.

“Listrik bagaimana menggenjot 35.000 MW sangat mengkonsumsi, baik itu sebagai bahan baku, gas station dan kilang minyak itu merupakan suatu kalau awalnya hanya berupa sheet-sheet metal saat ada mesin-mesin yang akan diproduksi beberapa manufaktur baik dari permesinan,” kata Dadang.

Saat ini, konsumsi baja pada 2015-2016 di Asia mencapai 1.523 juta ton, di mana China sebagai konsumen terbesar di dunia. Ia mencontohkan, pertumbuhan konsumsi baja di Asia termasuk China mengalami pertumbuhan dari 955 juta ton ke 993 juta ton pada tahun 2016. Hal itu karena Asia sedang menggenjot pembangunan infrastruktur.

“Asia itu bukan main konsumsinya, karena betul-betul negara di Asia tengah menggenjot pekerjaan pembangunan infrastruktur mungkin di Eropa agak sedikit stuck tapi masih pasar yang bisa digarap dengan segala konsekuensinya semua peralatan dan permesinan berkaitan dengan industri baja sangat potensial sekali untuk di Asia,” kata Dadang.

Ia memproyeksikan, konsumsi kebutuhan baja nasional Indonesia pada tahun 2020 mencapai 27 juta ton. Hal ini yang seharusnya dijadikan suatu peluang pasar yang sangat terbuka.

Namun, sayangnya kapasitas produksi menurut data BPS Indonesia baru bisa mencukupi 60% kebutuhan nasional, sedangkan 40% nya harus tetap impor. Pada 2015 sendiri kapasitas iron making, steel making dan rolling mill secara berurutan adalah 4,5 juta ton, 9,2 juta ton dan 14 juta ton.

Padahal ini merupakan potensi yang bagus jika yang terserap kepada proyek infrastruktur full baja produksi lokal.

“Dengan kapasitas yang ada menurut BPS mencapai 60% saja, 40% nya tetap impor. Dari produksi itu sebagian terserap dalam percepatan pembangunan infrastruktur dan energi sesuai MP3Ei (master plan) pembangunan di industri,” ujar Dadang.

Dengan begitu, ini lah tantangan bagi industri baja lokal karena proyek dan marketnya berpotensi besar sedangkan masih ada baja impor. Untuk menjawab tantangan itu, menurut Dadang, harus dibekali dengan penurunan harga produksi seperti biaya energi gas dan listrik serta meningkatkan kemampuan SDM.

Untuk meningkatkan kemampuan SDM dapat dilakukan penyetaraan program peningkatan kualitas SDM melalui sertifikasi profesi sehingga diharapkan dapat menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan efisien. Serta menjaga pasokan energi seperti gas dan listrik karena itu menjadi kebutuhan infrastruktur bagi industri baja.

“Pengembangan industri hulu atau hilir, pemerintah harus menjamin ketersediaan energi, gas, dan listrik bagaimana cara menekan harga gas dan listrik agar bisa mempunyai harga gas yang lebih tinggi, menekan ongkos logistik ini berkaitan dengan dwelling time dan memangkas cost-cost ini. Indonesia ongkos logistiknya masih tergolong tinggi itu harus dibenahi juga supaya bisa bersaing,” ujar Dadang. (drk/drk)

sumber : detik.com/Yulida Medistiara – detikFinance

Foto: Yulida Medistiara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *